Sabtu, 20 Juli 2013

New Born : Suka Duka 10 Juli 2013

“Oke, ini udah cukup. Tanggal 3 Juli kamu sidang. Sekarang daftar aja dulu, cari pak Adhit”

“Baik, Bu” Aku tersenyum.

Akhirnya, setelah 14 bulan melakukan penelitian, sampailah pada waktu mempertanggungjawabkannya. Akhirnya, setelah setahun lebih lama, aku dapat melepaskan predikat “Mahasiswa Tingkat Akhir”. Akhirnya, setelah perkuliahan, aku akan masuk kedalam fase yang lebih tinggi. Tapi, sebelum itu semua, aku harus melewati satu tahap yang sangat besar, yang lebih menyeramkan dari integral berganda dalam kalkulus, juga lebih menakutkan dari banci regency. iyuuuh~

*****

Kata orang, cobaan Skripsi terberat adalah pada saat menuju persidangan dan aku sangat setuju. Sehari sebelumnya, aku baru dapat mendaftar sidang. Aneh memang ya, tanggal sidang sudah ada sebelum mendaftar sidang. Itulah hebatnya Jurusan Metalurgi. Sayangnya, peraturan baru dibuathari itu juga oleh koordinator Skripsi, “Sidang Skripsi baru bisa dilakukan, paling cepat seminggu setelah pendaftaran sidang”. Dan akhirnya, sidang yang harusnya dilakukan besok, mundur ke tanggal 10 Juli. Cobaan Skripsi terlewati dengan pasrah.

*****

Besok adalah hari yang sangat menentukan untukku menjadi seorang Sarjana Teknik. Dan hari ini aku ingin menghabiskan waktu untuk me-review materi-materi dasar serta simulasi presentasi. Aku ingin hari ini sedikit lebih santai dari hari sebelum-sebelumnya dan itu berjalan baik sampai ada sebuah panggilan masuk ke ponselku.

“ada apa nih?” aku melihat layar ponsel yang menampilkan nama penguji sidangku besok, Bu Saptri, “Assalamualaikum, Bu” aku memulainya.

“Walaikumssalam” terdengar suara khas beliau.

“Iya, Bu. Ada apa?”

“Kamu jadi sidang besok, ‘gak?”
Aku bingung, kenapa beliau menanyakan soal jadi-tidaknya sidang besok.

“Jadi, Bu”

“kok saya belum dapat draft laporanmu yah?”

Astagfirullah, cobaan apalagi ini ya Allah? Aku ingat betul, semua draft sudah aku berikan kepada sekretaris jurusan, Ibu Okti, dan akan diberikan olehnya kepada para penguji sidangku.

“maaf, Bu. Draft laporan sudah saya berikan kepada Ibu Okti dan katanya akan disampaikan ke Ibu”

“Mana? Saya belum pegang sekarang. Padahal tadi saya ada di kampus sampai jam 12.00”

Ya Allah, kenapa bisa begini? Kenapa masih ada cobaan yang seperti ini?

“Ya sudah, gini aja, kamu antar draft laporanmu ke rumah aja ya.”

“Baik, Bu” aku sambil mengingat rumah beliau.

“Hmmmm…Tapi saya lagi di luar sekarang. di rumah tidak ada siapa-saiapa. gemana yah?”

Aku yang juga bingung, akhirnya menciptakan keheningan selama 5 detik

“Gini aja deh, nanti kamu antar setelah saya ada di rumah saja ya. Nanti saya kabari kalau sudah ada di rumah”

“Siap, Bu” aku jawab dengan sigap sambil melihat jam yang menunjukan pukul 12.30.

“Oke, begitu saja yah, Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

Setelah panggilan berakhir, aku buru-buru menghubungi sekjur untuk mengetahui keberadaan draft laporan milikku, mengapa tidak disampaikan?

Draft kamu sudah saya taruh di meja Bu Saptri kok, tapi memang Bu Saptri belum ke jurusan” inilah penjelasan yang membuat Bu Saptri belum menerimanya. “jadi kalau kamu mau ambil laporannya, ambil saja di meja Bu Saptri. Oh, iya laporan kamu yang di Bu Anis, semua halamannnya terbalik. Coba kamu hubungi Bu Anis aja.” Ibu Anis adalah pembimbing sekaligus penguji sidangku besok.

Hah? Terbalik? Aku yakin semua sudah dalam posisi yang baik saat menjilid laporan tersebut. Kenapa bisa?

“Baik, Bu. Terimakasih. Saya akan menghubungi Bu Anis. Assalamualaikum” aku mengakhirinya.

Cepat-cepat aku menghubungi Bu Anis untuk mempertanyakan soal laporan yang terbalik. Jujur, aku sangat panik mengetahui bahwa laporan yang aku jilid itu terbalik, semua.

“Maaf, Bu. Saya dapat info, kalau laporan yang Ibu pegang itu terbalik.”

“Iya, terbalik semua. Jadi bukanya bukan dari kanan, tapi dari kiri”

“Mohon maaf, Bu. Saya tidak men-cek lagi setelah di jilid. Apa saya jilid ulang, Bu?”

“Ya sudah, tidak apa-apa.”

“Benar tidak apa-apa, Bu?”

“Iya. Sudah, persiapkan saja untuk besok”

“Siap, Bu. Terimakasih. Assalamualaikum” aku sedikit lega dan bersyukur, masalah tak bertambah.

Sekarang yang harus akau lakukan adalah ke kampus, ambil draft laporan, lalu mengantarkannya ke rumah Bu Saptri. J

*****

Jam sudah menunjukan pukul 18.00, tapi belum ada kabar dari Bu Saptri jika beliau sudah ada di rumah. Aku masih gelisah belum memberikan draft laporan padahal besok sudah sidang.

“udah telfon aja, biar gak terus gantung gitu lo-nya” temanku menyarankan.

“iya, gw juga mau nelfon kok. Tapi sekarang maghrib, gak enak gw”

“ya, terserah lo deh”

Telfon, tidak, telfon, tidak, telfon, tidak? Aku masih menimbang-nimbang haruskah menelfon sekarang juga. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelfon.

“bodo ah, maghrib. Yang penting jelas nasib gw” aku bergumam.

“Assalamualaikum, Bu. Draft laporannya jadi saya antar tidak, Bu?” aku langsung to the point saat panggilanku terjawab.

“Walaikumsalam. Duh, maaf yah. Saya masih di luar, tidak bisa pulang karena hujan. Besok saja yah di kampus, jam 08.00 saya ada kelas termo.”

Alhamdulillah, jadi semua jelas kalau begitu.

*****

Pukul 00.00, artinya sudah tanggal 10 Juli, hanya tinggal beberapa jam saja sidang akan berlangsung. Aku masih sibuk melakukan simulasi serta merevisi slide yang akan aku presentasikan.

“Saya tidak enak badan, kemungkinan besok tidak datang. Saya juga ada di luar kota”

Tiba-tiba pesan datang ke ponselku. Aku baca berulang-ulang, sampai aku yakin bahwa semua kalimatnya benar. Ya, itu pesan dari penguji sidang yang lain, Pak Solihin, mengatakan bahwa tidak dapat datang sebagai pengujiku nanti siang.

“Gagal sidang lagi dah gw” gumamku berkali-kali.

Semalaman perasaanku tak tenang, terus memikirkan bagaimana kelanjutan sidangku nanti siang. Disamping ketidak-tenangan, aku coba terus mempersiapkan diri untuk sidang, mengulang simulasi presentasi. Sampai pagi datang, aku belum tidur karena terus memikirkan soal penguji yang tak datang siang nanti.

Pukul 08.00, aku coba menghubungi ketua jurusanku untuk menanyakan kelanjutan sidang nanti siang jika penguji 3 tidak datang.

“Bisa aja kok kamu sidang dengan 2 penguji, hanya saja itu jadi kerugian kamu. Nilai dari 2 penguji akan tetap dibagi 3”

Setelah mendengar penjelasan tersebut, aku menimbang apa harus tetap melanjutkan dengan konsekuensi hasil yang kurang baik.

“Bismillah, lanjut aja deh. Bantu ya Allah” aku meminta pada Allah lalu bersiap-bersiap menuju kampus.

Pada perjalanan menuju kampus, ada panggilan yang masuk ke ponselku dengan nomor yang tidak dikenal.

“Halo, assalamualaikum” jawabku dengan lemas.

“walaikumsalam. Kamu sidang jam berapa?”

Siapa ini? tiba-tiba menanyakan sidang.

“siapa nih?” aku jawab masih tetap lemas.

“Pak Solihin”

“ooh, iya pak. Saya sidang jam 2 pak.”

“yasudah, saya lagi di jalan nih, dari Bandung. Semoga tepat waktu sampai di sana”

“iya pak, iya” aku jawab dengan sumringah, “terimakasih, pak”

Alhamdulillah, akhirnya penguji 3 tetap akan datang, artinya sidang akant tetap berlangsung dengan tiga penguji dan tidak ada pengurangan nilai. Alhamdulillah.

*****

2,5 jam sidang telah berlangsung. Aku sadar, sidang tadi jauh dari kata lancar. Tentang Termodinamika, kinetika dan reaksi proses tidak dapat aku jawab dengan tuntas. Ini membuatku khawatir akan kelulusanku.

“Nama Kamu Siapa?” Ketua sidang menanyakanku.

“Ulul Fadhli”

“NPM?”

“3334081640”

“Sudah siap mendengarkan hasil sidang?”

”Siap”

“Semalam kamu mimpi apa?” Bu Saptri masih terus melanjutkan.

“tidak mimpi bu, tidak tidur”

“Oh, Pantesan tadi tidak lancar, ternyata tidak tidur”

Sambil mengulang kejadian semalam, aku coba memaksakan senyum untuk merespon perkataan ketua sidang.

“Saya tahu kamu banget lah bagaimana, tahu hitam-putihnya kamu. Siapa pembimbing kerja praktek, kamu?” Bagaimana Bu Saptri tidak tau, Aku sudah melewati 4 kali presentasi di depan beliau dan tak pernah aku se-gagap ini dalam menjawab pertanyaan.

“Ibu sendiri”

“Makanya, saya agak kecewa dengan yang tadi”

Aku coba terus tersenyum walau pandanganku mulai kabur karena air mata yang mulai menutupi mataku. Aku coba menahannya agar tidak keluar.

“oke, akan saya bacakan hasil sidangnya, kamu sudah siap?”

“Siap, Bu”

“Pada Hari ini, Rabu Tanggal Sepuluh Bulan Juli Tahun Dua Ribu Tiga Belas, telah diadakan Sidang Sarjana Jurusan Teknik Metalurgi di kampus Fakultas Tekni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten. Hasil persidangan memutuskan bahwa, Ulul Fadhli dengan NPM 3334081640 dinyatakan LULUS/TIDAK LULUS menjadi Sarjana Strata 1”

“Alhamdulillah” aku mengucap syukur dan tak dapat menahan air mata lagi.


Alhamdulillah, akhirnya lulus juga~


1 komentar:

  1. baru bacaaa... selamaaaat.. lulus juga.. predikat mahasiswa abadi terbantahkan.. haha.. smoga berkah yaaa..

    BalasHapus