“Oke, ini udah
cukup. Tanggal 3 Juli kamu sidang. Sekarang daftar aja dulu, cari pak Adhit”
“Baik, Bu” Aku
tersenyum.
Akhirnya,
setelah 14 bulan melakukan penelitian, sampailah pada waktu
mempertanggungjawabkannya. Akhirnya, setelah setahun lebih lama, aku dapat
melepaskan predikat “Mahasiswa Tingkat Akhir”. Akhirnya, setelah perkuliahan,
aku akan masuk kedalam fase yang lebih tinggi. Tapi, sebelum itu semua, aku
harus melewati satu tahap yang sangat besar, yang lebih menyeramkan dari
integral berganda dalam kalkulus, juga lebih menakutkan dari banci regency. iyuuuh~
*****
Kata orang,
cobaan Skripsi terberat adalah pada saat menuju persidangan dan aku sangat
setuju. Sehari sebelumnya, aku baru dapat mendaftar sidang. Aneh memang ya,
tanggal sidang sudah ada sebelum mendaftar sidang. Itulah hebatnya Jurusan
Metalurgi. Sayangnya, peraturan baru dibuathari itu juga oleh koordinator
Skripsi, “Sidang Skripsi baru bisa dilakukan, paling cepat seminggu setelah
pendaftaran sidang”. Dan akhirnya, sidang yang harusnya dilakukan besok, mundur
ke tanggal 10 Juli. Cobaan Skripsi terlewati dengan pasrah.
*****
Besok adalah
hari yang sangat menentukan untukku menjadi seorang Sarjana Teknik. Dan hari
ini aku ingin menghabiskan waktu untuk me-review
materi-materi dasar serta simulasi presentasi. Aku ingin hari ini sedikit lebih
santai dari hari sebelum-sebelumnya dan itu berjalan baik sampai ada sebuah
panggilan masuk ke ponselku.
“ada apa nih?”
aku melihat layar ponsel yang menampilkan nama penguji sidangku besok, Bu
Saptri, “Assalamualaikum, Bu” aku memulainya.
“Walaikumssalam”
terdengar suara khas beliau.
“Iya, Bu. Ada
apa?”
“Kamu jadi
sidang besok, ‘gak?”
Aku bingung,
kenapa beliau menanyakan soal jadi-tidaknya sidang besok.
“Jadi, Bu”
“kok saya
belum dapat draft laporanmu yah?”
Astagfirullah,
cobaan apalagi ini ya Allah? Aku ingat betul, semua draft sudah aku berikan
kepada sekretaris jurusan, Ibu Okti, dan akan diberikan olehnya kepada para
penguji sidangku.
“maaf, Bu. Draft laporan sudah saya berikan kepada
Ibu Okti dan katanya akan disampaikan ke Ibu”
“Mana? Saya belum
pegang sekarang. Padahal tadi saya ada di kampus sampai jam 12.00”
Ya Allah,
kenapa bisa begini? Kenapa masih ada cobaan yang seperti ini?
“Ya sudah,
gini aja, kamu antar draft laporanmu
ke rumah aja ya.”
“Baik, Bu” aku
sambil mengingat rumah beliau.
“Hmmmm…Tapi
saya lagi di luar sekarang. di rumah tidak ada siapa-saiapa. gemana yah?”
Aku yang juga
bingung, akhirnya menciptakan keheningan selama 5 detik
“Gini aja deh,
nanti kamu antar setelah saya ada di rumah saja ya. Nanti saya kabari kalau
sudah ada di rumah”
“Siap, Bu” aku
jawab dengan sigap sambil melihat jam yang menunjukan pukul 12.30.
“Oke, begitu
saja yah, Assalamualaikum”
“Walaikumsalam”
Setelah
panggilan berakhir, aku buru-buru menghubungi sekjur untuk mengetahui
keberadaan draft laporan milikku,
mengapa tidak disampaikan?
“Draft kamu sudah saya taruh di meja Bu
Saptri kok, tapi memang Bu Saptri belum ke jurusan” inilah penjelasan yang
membuat Bu Saptri belum menerimanya. “jadi kalau kamu mau ambil laporannya,
ambil saja di meja Bu Saptri. Oh, iya laporan kamu yang di Bu Anis, semua
halamannnya terbalik. Coba kamu hubungi Bu Anis aja.” Ibu Anis adalah
pembimbing sekaligus penguji sidangku besok.
Hah? Terbalik?
Aku yakin semua sudah dalam posisi yang baik saat menjilid laporan tersebut.
Kenapa bisa?
“Baik, Bu.
Terimakasih. Saya akan menghubungi Bu Anis. Assalamualaikum” aku mengakhirinya.
Cepat-cepat
aku menghubungi Bu Anis untuk mempertanyakan soal laporan yang terbalik. Jujur,
aku sangat panik mengetahui bahwa laporan yang aku jilid itu terbalik, semua.
“Maaf, Bu.
Saya dapat info, kalau laporan yang Ibu pegang itu terbalik.”
“Iya, terbalik
semua. Jadi bukanya bukan dari kanan, tapi dari kiri”
“Mohon maaf,
Bu. Saya tidak men-cek lagi setelah di jilid. Apa saya jilid ulang, Bu?”
“Ya sudah,
tidak apa-apa.”
“Benar tidak
apa-apa, Bu?”
“Iya. Sudah,
persiapkan saja untuk besok”
“Siap, Bu.
Terimakasih. Assalamualaikum” aku sedikit lega dan bersyukur, masalah tak bertambah.
Sekarang yang
harus akau lakukan adalah ke kampus, ambil draft
laporan, lalu mengantarkannya ke rumah Bu Saptri. J
*****
Jam sudah
menunjukan pukul 18.00, tapi belum ada kabar dari Bu Saptri jika beliau sudah
ada di rumah. Aku masih gelisah belum memberikan draft laporan padahal besok sudah sidang.
“udah telfon
aja, biar gak terus gantung gitu lo-nya” temanku menyarankan.
“iya, gw juga
mau nelfon kok. Tapi sekarang maghrib, gak enak gw”
“ya, terserah
lo deh”
Telfon, tidak,
telfon, tidak, telfon, tidak? Aku masih menimbang-nimbang haruskah menelfon sekarang juga. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelfon.
“bodo ah,
maghrib. Yang penting jelas nasib gw” aku bergumam.
“Assalamualaikum,
Bu. Draft laporannya jadi saya antar
tidak, Bu?” aku langsung to the point
saat panggilanku terjawab.
“Walaikumsalam.
Duh, maaf yah. Saya masih di luar, tidak bisa pulang karena hujan. Besok saja
yah di kampus, jam 08.00 saya ada kelas termo.”
Alhamdulillah,
jadi semua jelas kalau begitu.
*****
Pukul 00.00,
artinya sudah tanggal 10 Juli, hanya tinggal beberapa jam saja sidang akan
berlangsung. Aku masih sibuk melakukan simulasi serta merevisi slide yang akan aku presentasikan.
“Saya tidak
enak badan, kemungkinan besok tidak datang. Saya juga ada di luar kota”
Tiba-tiba
pesan datang ke ponselku. Aku baca berulang-ulang, sampai aku yakin bahwa semua
kalimatnya benar. Ya, itu pesan dari penguji sidang yang lain, Pak Solihin, mengatakan
bahwa tidak dapat datang sebagai pengujiku nanti siang.
“Gagal sidang
lagi dah gw” gumamku berkali-kali.
Semalaman perasaanku
tak tenang, terus memikirkan bagaimana kelanjutan sidangku nanti siang. Disamping
ketidak-tenangan, aku coba terus mempersiapkan diri untuk sidang, mengulang
simulasi presentasi. Sampai pagi datang, aku belum tidur karena terus
memikirkan soal penguji yang tak datang siang nanti.
Pukul 08.00,
aku coba menghubungi ketua jurusanku untuk menanyakan kelanjutan sidang nanti
siang jika penguji 3 tidak datang.
“Bisa aja kok
kamu sidang dengan 2 penguji, hanya saja itu jadi kerugian kamu. Nilai dari 2
penguji akan tetap dibagi 3”
Setelah mendengar
penjelasan tersebut, aku menimbang apa harus tetap melanjutkan dengan
konsekuensi hasil yang kurang baik.
“Bismillah,
lanjut aja deh. Bantu ya Allah” aku meminta pada Allah lalu bersiap-bersiap menuju
kampus.
Pada perjalanan
menuju kampus, ada panggilan yang masuk ke ponselku dengan nomor yang tidak
dikenal.
“Halo,
assalamualaikum” jawabku dengan lemas.
“walaikumsalam.
Kamu sidang jam berapa?”
Siapa ini?
tiba-tiba menanyakan sidang.
“siapa nih?”
aku jawab masih tetap lemas.
“Pak Solihin”
“ooh, iya pak.
Saya sidang jam 2 pak.”
“yasudah, saya
lagi di jalan nih, dari Bandung. Semoga tepat waktu sampai di sana”
“iya pak, iya”
aku jawab dengan sumringah, “terimakasih, pak”
Alhamdulillah,
akhirnya penguji 3 tetap akan datang, artinya sidang akant tetap berlangsung
dengan tiga penguji dan tidak ada pengurangan nilai. Alhamdulillah.
*****
2,5 jam sidang
telah berlangsung. Aku sadar, sidang tadi jauh dari kata lancar. Tentang Termodinamika,
kinetika dan reaksi proses tidak dapat aku jawab dengan tuntas. Ini membuatku
khawatir akan kelulusanku.
“Nama Kamu
Siapa?” Ketua sidang menanyakanku.
“Ulul Fadhli”
“NPM?”
“3334081640”
“Sudah siap
mendengarkan hasil sidang?”
”Siap”
“Semalam kamu
mimpi apa?” Bu Saptri masih terus melanjutkan.
“tidak mimpi
bu, tidak tidur”
“Oh, Pantesan
tadi tidak lancar, ternyata tidak tidur”
Sambil mengulang
kejadian semalam, aku coba memaksakan senyum untuk merespon perkataan ketua
sidang.
“Saya tahu kamu
banget lah bagaimana, tahu hitam-putihnya kamu. Siapa pembimbing kerja praktek,
kamu?” Bagaimana Bu Saptri tidak tau, Aku sudah melewati 4 kali presentasi di depan
beliau dan tak pernah aku se-gagap ini dalam menjawab pertanyaan.
“Ibu sendiri”
“Makanya, saya
agak kecewa dengan yang tadi”
Aku coba terus
tersenyum walau pandanganku mulai kabur karena air mata yang mulai menutupi
mataku. Aku coba menahannya agar tidak keluar.
“oke, akan
saya bacakan hasil sidangnya, kamu sudah siap?”
“Siap, Bu”
“Pada Hari
ini, Rabu Tanggal Sepuluh Bulan Juli Tahun Dua Ribu Tiga Belas, telah diadakan
Sidang Sarjana Jurusan Teknik Metalurgi di kampus Fakultas Tekni Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa Banten. Hasil persidangan memutuskan bahwa, Ulul Fadhli
dengan NPM 3334081640 dinyatakan LULUS/TIDAK LULUS menjadi Sarjana Strata 1”
“Alhamdulillah”
aku mengucap syukur dan tak dapat menahan air mata lagi.
Alhamdulillah,
akhirnya lulus juga~

baru bacaaa... selamaaaat.. lulus juga.. predikat mahasiswa abadi terbantahkan.. haha.. smoga berkah yaaa..
BalasHapus