Selasa, 06 Agustus 2013

Orion, Bintang Kebahagiaan 3

Aku, Ucup dan Angga sepakat membentuk band untuk sekedar menyalurkan hasrat bermusik kami. Dengan mental seni yang minim kami menamainya MLG, “My Long Genital”. Jika orang lain mencari nama dengan filosofi yang mengagumkan, tidak dengan kami. Nama itu tercetus tanpa sengaja oleh Angga yang sering menjelajah situs porno. Suatu waktu aku pernah menanyai latar belakang penamaan tersebut, dan dengan entengnya dia menjawab “biar orang – orang pada tau kalo punya kita panjang”, Bodoh.
Kami biasa latihan di studio musik milik keluarga Naya. Naya adalah seorang wanita yang memiliki banyak pemuja rahasia. bagaimana tidak, jika harus dikonversi kedalam angka, maka Naya bisa mendapatkan nilai 10/10, Sempurna. Aku mengenalnya pada saat masa orientasi di fakultas dan sejak itu kami bersahabat.
Naya senang sekali mendengar diriku memiliki sebuah band. Dengan antusias Naya menawarkan untuk latihan di studio musik miliknya. Beruntung memang.
“Halo, Nay.” Aku menghubungi Naya.
“Halo, Fi.”
“lo lagi dimana?”
“di Rumah nih. Kenapa? Mau latihan yah?”
“iya nih, tau aja lo. Hehehehe” aku tertawa menahan sedikit malu karena tujuanku menghubunginya sudah tertebak lebih dulu.
“I know you so well~” Naya mebalasku sambil menyanyikan kalimat tersebut.
“yaudah, gw ketempat lo yah. Gw jemput lo, trus langsung ke studio.”
“gak usah, aku aja yang ke kosan kamu. Habis latihan temenin aku jalan yah”
“oke kalo gitu. Siap tuan putri Kanaya”
*****
Naya tak pernah absen menemani kami latihan. Secara tak langsung dia juga telah menjadi manajer sekaligus produser. Lagi – lagi beruntung.
“lagu baru kalian bagus juga, siapa yang buat?” Naya bertanya.
Angga dan Ucup melihat ke arahku.
“kita buat bareng – bareng kok” aku yang gerogi lalu menyambar.
“oh gitu. Tiap latihan harus dibawain yah. Minimal 10 kali”
“ah, yang bener aja lo, Nay. Bosen kali” Ucup protes.
“gw juga pegel tuh mainin bass-nya, ribet” Angga ikut – ikutan.
“masih mau latihan gratis gak? Itu peraturannya” Naya mengultimatum.
Aku hanya tertawa kecil melihat Ucup dan Angga yang tak mampu melawan lagi.
“yaudah, yuk kita pulang aja” ajakku.
Mendengar ajakkanku, Naya lalu sibuk membuka dompetnya.
“Ucup sama Angga, balik ke kosannya sendiri yah. Aku sama Arfi mau jalan – jalan dulu. Nih buat ongkos” Naya memberikan uang sepuluhribu kepada mereka.
“kok gitu, Nay? Tega banget lo nyuruh kita pulang sendiri” Ucup mengiba.
“ah, nyesel gw nebeng mobil lo, Nay. Besok – besok kita bawa motor aja kesininya, Cup” Angga lagi – lagi protes pada Naya.
“hehehe, maaf yah. Soalnya bakalan bolak – balik kalo mesti ke kosan kalian dulu. Yuk, Fi kita berangkat”
“yuk, Nay. Kalian sabar yah. Hehehehe” aku meledek Ucup dan Angga.
*****
“Arfi, kamu belajar nyetir dong. Masa cewek sih yang nyetir?” Naya menggerutu ditengah perjalanan.
“gak ah, enakan begini. Disetirin sama lo, gak capek. Hehehehe”
Naya sedikit kesal mendengar jawabanku, terlihat dari bibirnya yang sedikit dimanyunkan. Ekspresi ini sudah menjadi langganan jika Naya sedang kesal.
“dih manyun”
“bodo” Naya tambah kesal.
“hehehehe” aku lanjut tertawa. “sebenarnya kita mau kemana sih?” aku bertanya setelah puas tertawa melihat Naya.
“………” Naya hanya terdiam.
“Nay, kita mau kemana? Ke toko buku?”
“……………….” Naya masih diam dan lebih lama.
“Nay?” aku panggil agak keras.
“eh, iyaiya” Naya kaget. Lalu hening kembali.
“Arfi, mau gak jadi pacar aku?” Suara Naya muncul.

“HAH?” sekarang aku yang kaget.

Sabtu, 20 Juli 2013

New Born : Suka Duka 10 Juli 2013

“Oke, ini udah cukup. Tanggal 3 Juli kamu sidang. Sekarang daftar aja dulu, cari pak Adhit”

“Baik, Bu” Aku tersenyum.

Akhirnya, setelah 14 bulan melakukan penelitian, sampailah pada waktu mempertanggungjawabkannya. Akhirnya, setelah setahun lebih lama, aku dapat melepaskan predikat “Mahasiswa Tingkat Akhir”. Akhirnya, setelah perkuliahan, aku akan masuk kedalam fase yang lebih tinggi. Tapi, sebelum itu semua, aku harus melewati satu tahap yang sangat besar, yang lebih menyeramkan dari integral berganda dalam kalkulus, juga lebih menakutkan dari banci regency. iyuuuh~

*****

Kata orang, cobaan Skripsi terberat adalah pada saat menuju persidangan dan aku sangat setuju. Sehari sebelumnya, aku baru dapat mendaftar sidang. Aneh memang ya, tanggal sidang sudah ada sebelum mendaftar sidang. Itulah hebatnya Jurusan Metalurgi. Sayangnya, peraturan baru dibuathari itu juga oleh koordinator Skripsi, “Sidang Skripsi baru bisa dilakukan, paling cepat seminggu setelah pendaftaran sidang”. Dan akhirnya, sidang yang harusnya dilakukan besok, mundur ke tanggal 10 Juli. Cobaan Skripsi terlewati dengan pasrah.

*****

Besok adalah hari yang sangat menentukan untukku menjadi seorang Sarjana Teknik. Dan hari ini aku ingin menghabiskan waktu untuk me-review materi-materi dasar serta simulasi presentasi. Aku ingin hari ini sedikit lebih santai dari hari sebelum-sebelumnya dan itu berjalan baik sampai ada sebuah panggilan masuk ke ponselku.

“ada apa nih?” aku melihat layar ponsel yang menampilkan nama penguji sidangku besok, Bu Saptri, “Assalamualaikum, Bu” aku memulainya.

“Walaikumssalam” terdengar suara khas beliau.

“Iya, Bu. Ada apa?”

“Kamu jadi sidang besok, ‘gak?”
Aku bingung, kenapa beliau menanyakan soal jadi-tidaknya sidang besok.

“Jadi, Bu”

“kok saya belum dapat draft laporanmu yah?”

Astagfirullah, cobaan apalagi ini ya Allah? Aku ingat betul, semua draft sudah aku berikan kepada sekretaris jurusan, Ibu Okti, dan akan diberikan olehnya kepada para penguji sidangku.

“maaf, Bu. Draft laporan sudah saya berikan kepada Ibu Okti dan katanya akan disampaikan ke Ibu”

“Mana? Saya belum pegang sekarang. Padahal tadi saya ada di kampus sampai jam 12.00”

Ya Allah, kenapa bisa begini? Kenapa masih ada cobaan yang seperti ini?

“Ya sudah, gini aja, kamu antar draft laporanmu ke rumah aja ya.”

“Baik, Bu” aku sambil mengingat rumah beliau.

“Hmmmm…Tapi saya lagi di luar sekarang. di rumah tidak ada siapa-saiapa. gemana yah?”

Aku yang juga bingung, akhirnya menciptakan keheningan selama 5 detik

“Gini aja deh, nanti kamu antar setelah saya ada di rumah saja ya. Nanti saya kabari kalau sudah ada di rumah”

“Siap, Bu” aku jawab dengan sigap sambil melihat jam yang menunjukan pukul 12.30.

“Oke, begitu saja yah, Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

Setelah panggilan berakhir, aku buru-buru menghubungi sekjur untuk mengetahui keberadaan draft laporan milikku, mengapa tidak disampaikan?

Draft kamu sudah saya taruh di meja Bu Saptri kok, tapi memang Bu Saptri belum ke jurusan” inilah penjelasan yang membuat Bu Saptri belum menerimanya. “jadi kalau kamu mau ambil laporannya, ambil saja di meja Bu Saptri. Oh, iya laporan kamu yang di Bu Anis, semua halamannnya terbalik. Coba kamu hubungi Bu Anis aja.” Ibu Anis adalah pembimbing sekaligus penguji sidangku besok.

Hah? Terbalik? Aku yakin semua sudah dalam posisi yang baik saat menjilid laporan tersebut. Kenapa bisa?

“Baik, Bu. Terimakasih. Saya akan menghubungi Bu Anis. Assalamualaikum” aku mengakhirinya.

Cepat-cepat aku menghubungi Bu Anis untuk mempertanyakan soal laporan yang terbalik. Jujur, aku sangat panik mengetahui bahwa laporan yang aku jilid itu terbalik, semua.

“Maaf, Bu. Saya dapat info, kalau laporan yang Ibu pegang itu terbalik.”

“Iya, terbalik semua. Jadi bukanya bukan dari kanan, tapi dari kiri”

“Mohon maaf, Bu. Saya tidak men-cek lagi setelah di jilid. Apa saya jilid ulang, Bu?”

“Ya sudah, tidak apa-apa.”

“Benar tidak apa-apa, Bu?”

“Iya. Sudah, persiapkan saja untuk besok”

“Siap, Bu. Terimakasih. Assalamualaikum” aku sedikit lega dan bersyukur, masalah tak bertambah.

Sekarang yang harus akau lakukan adalah ke kampus, ambil draft laporan, lalu mengantarkannya ke rumah Bu Saptri. J

*****

Jam sudah menunjukan pukul 18.00, tapi belum ada kabar dari Bu Saptri jika beliau sudah ada di rumah. Aku masih gelisah belum memberikan draft laporan padahal besok sudah sidang.

“udah telfon aja, biar gak terus gantung gitu lo-nya” temanku menyarankan.

“iya, gw juga mau nelfon kok. Tapi sekarang maghrib, gak enak gw”

“ya, terserah lo deh”

Telfon, tidak, telfon, tidak, telfon, tidak? Aku masih menimbang-nimbang haruskah menelfon sekarang juga. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelfon.

“bodo ah, maghrib. Yang penting jelas nasib gw” aku bergumam.

“Assalamualaikum, Bu. Draft laporannya jadi saya antar tidak, Bu?” aku langsung to the point saat panggilanku terjawab.

“Walaikumsalam. Duh, maaf yah. Saya masih di luar, tidak bisa pulang karena hujan. Besok saja yah di kampus, jam 08.00 saya ada kelas termo.”

Alhamdulillah, jadi semua jelas kalau begitu.

*****

Pukul 00.00, artinya sudah tanggal 10 Juli, hanya tinggal beberapa jam saja sidang akan berlangsung. Aku masih sibuk melakukan simulasi serta merevisi slide yang akan aku presentasikan.

“Saya tidak enak badan, kemungkinan besok tidak datang. Saya juga ada di luar kota”

Tiba-tiba pesan datang ke ponselku. Aku baca berulang-ulang, sampai aku yakin bahwa semua kalimatnya benar. Ya, itu pesan dari penguji sidang yang lain, Pak Solihin, mengatakan bahwa tidak dapat datang sebagai pengujiku nanti siang.

“Gagal sidang lagi dah gw” gumamku berkali-kali.

Semalaman perasaanku tak tenang, terus memikirkan bagaimana kelanjutan sidangku nanti siang. Disamping ketidak-tenangan, aku coba terus mempersiapkan diri untuk sidang, mengulang simulasi presentasi. Sampai pagi datang, aku belum tidur karena terus memikirkan soal penguji yang tak datang siang nanti.

Pukul 08.00, aku coba menghubungi ketua jurusanku untuk menanyakan kelanjutan sidang nanti siang jika penguji 3 tidak datang.

“Bisa aja kok kamu sidang dengan 2 penguji, hanya saja itu jadi kerugian kamu. Nilai dari 2 penguji akan tetap dibagi 3”

Setelah mendengar penjelasan tersebut, aku menimbang apa harus tetap melanjutkan dengan konsekuensi hasil yang kurang baik.

“Bismillah, lanjut aja deh. Bantu ya Allah” aku meminta pada Allah lalu bersiap-bersiap menuju kampus.

Pada perjalanan menuju kampus, ada panggilan yang masuk ke ponselku dengan nomor yang tidak dikenal.

“Halo, assalamualaikum” jawabku dengan lemas.

“walaikumsalam. Kamu sidang jam berapa?”

Siapa ini? tiba-tiba menanyakan sidang.

“siapa nih?” aku jawab masih tetap lemas.

“Pak Solihin”

“ooh, iya pak. Saya sidang jam 2 pak.”

“yasudah, saya lagi di jalan nih, dari Bandung. Semoga tepat waktu sampai di sana”

“iya pak, iya” aku jawab dengan sumringah, “terimakasih, pak”

Alhamdulillah, akhirnya penguji 3 tetap akan datang, artinya sidang akant tetap berlangsung dengan tiga penguji dan tidak ada pengurangan nilai. Alhamdulillah.

*****

2,5 jam sidang telah berlangsung. Aku sadar, sidang tadi jauh dari kata lancar. Tentang Termodinamika, kinetika dan reaksi proses tidak dapat aku jawab dengan tuntas. Ini membuatku khawatir akan kelulusanku.

“Nama Kamu Siapa?” Ketua sidang menanyakanku.

“Ulul Fadhli”

“NPM?”

“3334081640”

“Sudah siap mendengarkan hasil sidang?”

”Siap”

“Semalam kamu mimpi apa?” Bu Saptri masih terus melanjutkan.

“tidak mimpi bu, tidak tidur”

“Oh, Pantesan tadi tidak lancar, ternyata tidak tidur”

Sambil mengulang kejadian semalam, aku coba memaksakan senyum untuk merespon perkataan ketua sidang.

“Saya tahu kamu banget lah bagaimana, tahu hitam-putihnya kamu. Siapa pembimbing kerja praktek, kamu?” Bagaimana Bu Saptri tidak tau, Aku sudah melewati 4 kali presentasi di depan beliau dan tak pernah aku se-gagap ini dalam menjawab pertanyaan.

“Ibu sendiri”

“Makanya, saya agak kecewa dengan yang tadi”

Aku coba terus tersenyum walau pandanganku mulai kabur karena air mata yang mulai menutupi mataku. Aku coba menahannya agar tidak keluar.

“oke, akan saya bacakan hasil sidangnya, kamu sudah siap?”

“Siap, Bu”

“Pada Hari ini, Rabu Tanggal Sepuluh Bulan Juli Tahun Dua Ribu Tiga Belas, telah diadakan Sidang Sarjana Jurusan Teknik Metalurgi di kampus Fakultas Tekni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten. Hasil persidangan memutuskan bahwa, Ulul Fadhli dengan NPM 3334081640 dinyatakan LULUS/TIDAK LULUS menjadi Sarjana Strata 1”

“Alhamdulillah” aku mengucap syukur dan tak dapat menahan air mata lagi.


Alhamdulillah, akhirnya lulus juga~


Rabu, 01 Mei 2013

Orion, Bintang Kebahagian 2

Kelas statistik akan dimulai beberapa menit lagi, tapi aku belum berada di kelas saat ini. Aku masih duduk di depan kosan, memandangi hujan yang tak hentinya berjatuhan. Dingin yang dibawa hujan kali ini aku timpali dengan secangkir kopi hangat. Padanan yang pas.

Sedang asiknya aku menikmati cita rasa dan aroma kopi, tiba-tiba aku menangkap pemandangan yang tidak pas. Aku yakin sekali jika ini bukan malam dan ini bukan mimpi. Seperti melihat orion. Ia berlari bagai tak peduli hujan. Rambutnya jatuh karena sedikit basah oleh butir air langit.

“Panggil? Enggak? Panggil? Enggak?” aku menghitung jari, bimbang.

“Janji” Suaraku menembus hujan, “Mampir dulu sini. Hujannya deras” aku memutuskan memanggilnya karena kulihat dia sedang membawa sekumpulan kertas, yang sepertinya penting.

“gak deh. Makasih” jawabnya seperti tak peduli tawaranku sambil terus berlari. Aku sudah menduga pasti tidak mau.

Namanya Janji, Ia seorang wanita yang lembut dan anggun. Tapi tidak padaku, jutek dan ketus. Dia seperti alergi dengan diriku. Pernah suatu waktu, aku mengajaknya untuk bareng menuju kampus.

“ke kampus juga?” aku tanya dia sambil menghentikan laju motor.

“ya” jawabnya singkat sambil terus melangkah.

“yuk bareng, aku juga mau kekampus”

“gak usah” masih singkat dan masih terus melangkah.

“oke. Duluan ya” aku menarik gas dan meninggalkannya.

Tak berapa lama, sebuah motor mendahuluiku dan betapa kagetnya aku saat melihat orang yang berada dibelakang pengemudi. Janji, sudah duduk manis dibelakang. Menyakitkan memang. Ya walau begitu, setidaknya aku sudah berniat baik.

Aku lupakan kejadian barusan. Kopi yang masih sedikit mengepul terlihat lebih menarik daripada harus mengingat betapa juteknya Janji. Baru saja aku memegang cangkir, tiba-tiba ada suara yang datang.

“Arfi. Gw numpang neduh di sini dulu deh.”

Janji sudah berada di teras kosanku.

“eh, iya iya. Silahkan.” Aku kaget melihat dirinya sudah ada di depanku.

“mau minum? Kopi? Susu?” aku salah tingkah.

“makasih, numpang duduk aja”

“oh, iya iya. Duduk dulu deh” aku bahkan lupa mempersilahkan dia duduk. Grogi, salah tingkah.

Kini seorang wanita ketus ada disampingku. Aku hanya terdiam, begitu juga Janji yang sedaritadi memeluk kumpulan kertas. Momentum ini hanya dimonopoli oleh suara hujan. Aku bukan tak mampu berbicara, hanya saja aku baru pertama kali dihadapkan pada kondisi ini. berdua dengan Janji.

“ajak ngomong? Enggak? Ajak ngomong? Enggak?” aku mulai menghitung jari lagi, “ajak ngomong deh”

“hmmm, Janji” baru aku mau memulai, “ceklek” pintu kamar Ucup terbuka. Dan usaha pertamaku, gagal.

“waduh. Pagi-pagi udah ada bidadari aja nih” seloroh Ucup, dengan muka bantalnya, “siapa nih, Fi?”

“eh, kenalin, ini temen gw, Ucup.” Aku mengenalkan Ucup pada Janji.

“Yusuf Al Bantani, asli banten” Ucup menjabat tangan Janji. Ucup sangat bangga dengan nama belakangnya.

“Janji” Ia memperkenalkan diri sambil melepas tangan Ucup.

“wah, kirain namanya bidadari” Ucup menggoda, “oke deh, gw tinggal dulu yah”

Ucup pergi ke kamar mandi dan meninggalkan kami berdua. Suara hujan yang mereda menjadi musik latar diantara kesunyian yang kami ciptakan.

“gw harus ngobrol, harus” batinku sambil menguatkan tekad.

“hmmmm” baru aku mau memulai.

“Fi, kayaknya gw mau cabut aja deh. Udah reda juga. Makasih ya” Janji sudah berlari lagi sebelum aku sempat berkata-kata. Dan usaha keduaku, gagal.


“Sudahlah, mungkin memang belum waktunya” fikirku sambil menghirup wangi parfum Janji yang tertinggal.

Selasa, 30 April 2013

Orion, Bintang Kebahagiaan

Malam ini, angin seolah tak bosan-bosannya menyentuh tubuhku. Seperti tak ingin aku meninggalkannya sendiri, bergelung mencari arah. Aku bukan tak mampu menemani, hanya saja aku bukan orang yang tau kemana arah yang tepat? Jadilah aku hanya terdiam membalas sapaan angin yang dingin.

Malam ini, langit dengan angkuh memamerkan keanggunannya, gugusan bintang yang mengawal sabit. Aku terduduk, memandangi bintang kebahagiaanku di atas langit. Bintang kebahagian itu sesekali mengedip genit pada diriku. Ia sadar, aku datang untuk menemuinya.

Di bawah orion, aku mulai mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang aku cipta untuk dirinya, bintang kebahagian lain. Aku sama sekali tak medua, tapi aku yakin jika dia adalah jelmaan sesungguhnya dari orion. Mengagumkan, cukup untuk menggambarkan betapa sempurnanya dia untukku.

*****

Pagi-pagi sekali aku bangun, bahkan ayam pun belum siap berkokok. Aku beberapakali mengerjap, mencoba mengingat apa yang aku impikan semalam. Apa aku bertemu orion? Apa aku menyapanya? Aku bernyanyi untuknya? Entahlah, semua tak dapat aku ulang lagi.

Aku menyerah untuk mengingat mimpi dan keluar mencari udara yang sedikit segar ketimbang didalam kamar ini. Aku langsung disapa udara sejuk saat Kubuka kenop pintu kamar. Dengan rakus aku hirup oksigen kedalam paru-paru hingga tak bersisa ruang lagi, lalu aku keluarkan karbon dioksida.

Aku adalah mahasiswa tingkat dua yang masuk dalam fakultas teknik. Memang, cita-citaku sewaktu kecil adalah menjadi insinyur dan yakin jalan yang kupilih tidak salah untuk mewujudkan cita-cita itu. Tapi, sejalannya waktu, aku hampir lupa pada itu semua, Terkikis oleh perasaan ingin membahagiakan dua orang terhebat di rumah sana.

Aku lihat ventilasi kamar-kamar disampingku. Semua masih menunjukan jika penghuninya masih berkativitas. Di sebelah kiri, aku yakin Ucup sedang menonton klub sepakbola kesayangannya bertanding, Chelsea. Di sebelah kanan, Angga pasti sedang asik bermain game, dota online. Mereka adalah sahabatku sejak aku datang ke kota ini, Jakarta.

“Cup, Ga. Masih hidup kalian?” Aku menyapa mereka dari luar kamar kosan.

“yoi…” sahut mereka hampir bersamaan.

Cukup puas untuk menikmati udara, aku coba melihat mereka di dalam kamar. Aku masuk ke dalam kamar Ucup terlebih dahulu. Berharap chelsea-nya sedang kalah, jadi aku bisa mem-bully-nya.

“berapa-berapa cup? Menang?”

“tuh liat aja, Fi” Ucup tersenyum. Tanpa aku harus melihat televisi, sudah jelas terlihat jika chelsea menang.

“asik deh, 4-1. Makan siang gratis nih kayaknya” candaku.

“santai…” Ucup tersenyum puas “kalo david nanti pagi bayar, kita makan enak. Hahaha” setelah tersenyum, sekarang ia tertawa senang.

“oke deh, Cup” aku meninggalkan kamarnya dan menuju kamar Angga.

“woi, kerjaan lo tiap malem maen dota mulu.”

“bawel lo. Pacar gw aja gak bawel” protes Angga.

“pacar? Maksud lo boneka mendesah itu? hehehe” aku menunjuk boneka sex full body sambil terkekeh.

“berisik lo, kampret. Keluar sono, ganggu konsentrasi gw aja” Angga mengambil ancang-ancang melempar bantal. Aku buru-buru menutup pintu kamarnya. Belum ada 5 detik, aku muncul lagi dibalik pintunya.

“Ga, nama cewek lo siapa sih? Munaroh kan? Hahaha” buru-buru aku tutup lagi pintunya.

“kampret lo, Fi.” Teriak Angga dari dalam kamar.


Aku kembali masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku diatas kasur. Melanjutkan tidur dan bisa bermimpi indah lagi. Semoga saat terbangun nanti aku dapat mengingat lagi mimpi tentang orion.


Jumat, 26 April 2013

Nama adalah Doa

Mungkin hidupku bisa dibilang berawal dari ayat 22 dalam surat An Nur. Dari ayat itu lalu dikutip yang kemudian menjadi namaku, Ulul Fadhli. Jika ditelaah secara etimologi, nama yang aku sandang memiliki arti, Orang yang memiliki kelebihan. Banyak yang mengatakan, "nama itu adalah doa", jadi aku cukup meng-aamiin-kannya. Aamiin.

Dari tafsir An Nur 22, nama ini menitipkan sebuah harapan agar aku menjadi seorang yang perhatian serta dapat membantu terhadap sesama yang berada dibawah. Aamiin

Tapi, berbicara soal nama, mungkin aku bukan orang yang pandai memberi nama. Paling tidak terlihat dari blog ini. Aku memberi nama, ProyekKeciil, pada blog ini. Agak aneh memang, tapi harapanku, dari "proyekkecil" ini, bisa membuka sesuatu hal yang besar. Aamiin.

Jadi, aku tak akan menyempitkan konten blog. Aku akan menulis apa saja yang ada difikiranku, mulai dari ide, kreasi, perasaan, cinta, informasi sampai cerita keseharian. semoga memberikan banyak manfaat nantinya. Aamiin

-fdhl-