Malam ini, angin seolah tak bosan-bosannya
menyentuh tubuhku. Seperti tak ingin aku meninggalkannya sendiri, bergelung
mencari arah. Aku bukan tak mampu menemani, hanya saja aku bukan orang yang tau
kemana arah yang tepat? Jadilah aku hanya terdiam membalas sapaan angin yang
dingin.
Malam ini, langit dengan angkuh
memamerkan keanggunannya, gugusan bintang yang mengawal sabit. Aku terduduk,
memandangi bintang kebahagiaanku di atas langit. Bintang kebahagian itu
sesekali mengedip genit pada diriku. Ia sadar, aku datang untuk menemuinya.
Di bawah orion, aku mulai
mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang aku cipta untuk dirinya, bintang
kebahagian lain. Aku sama sekali tak medua, tapi aku yakin jika dia adalah
jelmaan sesungguhnya dari orion. Mengagumkan, cukup untuk menggambarkan
betapa sempurnanya dia untukku.
*****
Pagi-pagi sekali aku bangun, bahkan
ayam pun belum siap berkokok. Aku beberapakali mengerjap, mencoba mengingat apa
yang aku impikan semalam. Apa aku bertemu orion? Apa aku menyapanya? Aku bernyanyi
untuknya? Entahlah, semua tak dapat aku ulang lagi.
Aku menyerah untuk mengingat mimpi dan
keluar mencari udara yang sedikit segar ketimbang didalam kamar ini. Aku
langsung disapa udara sejuk saat Kubuka kenop pintu kamar. Dengan rakus aku hirup
oksigen kedalam paru-paru hingga tak bersisa ruang lagi, lalu aku keluarkan
karbon dioksida.
Aku adalah mahasiswa tingkat dua
yang masuk dalam fakultas teknik. Memang, cita-citaku sewaktu kecil adalah
menjadi insinyur dan yakin jalan yang kupilih tidak salah untuk mewujudkan
cita-cita itu. Tapi, sejalannya waktu, aku hampir lupa pada itu semua, Terkikis
oleh perasaan ingin membahagiakan dua orang terhebat di rumah sana.
Aku lihat ventilasi kamar-kamar
disampingku. Semua masih menunjukan jika penghuninya masih berkativitas. Di sebelah
kiri, aku yakin Ucup sedang menonton klub sepakbola kesayangannya bertanding,
Chelsea. Di sebelah kanan, Angga pasti sedang asik bermain game, dota online. Mereka
adalah sahabatku sejak aku datang ke kota ini, Jakarta.
“Cup, Ga. Masih hidup kalian?” Aku
menyapa mereka dari luar kamar kosan.
“yoi…” sahut mereka hampir
bersamaan.
Cukup puas untuk menikmati udara,
aku coba melihat mereka di dalam kamar. Aku masuk ke dalam kamar Ucup terlebih
dahulu. Berharap chelsea-nya sedang kalah, jadi aku bisa mem-bully-nya.
“berapa-berapa cup? Menang?”
“tuh liat aja, Fi” Ucup tersenyum. Tanpa
aku harus melihat televisi, sudah jelas terlihat jika chelsea menang.
“asik deh, 4-1. Makan siang gratis
nih kayaknya” candaku.
“santai…” Ucup tersenyum puas “kalo
david nanti pagi bayar, kita makan enak. Hahaha” setelah tersenyum, sekarang ia
tertawa senang.
“oke deh, Cup” aku meninggalkan kamarnya
dan menuju kamar Angga.
“woi, kerjaan lo tiap malem maen
dota mulu.”
“bawel lo. Pacar gw aja gak bawel”
protes Angga.
“pacar? Maksud lo boneka mendesah
itu? hehehe” aku menunjuk boneka sex full body sambil terkekeh.
“berisik lo, kampret. Keluar sono,
ganggu konsentrasi gw aja” Angga mengambil ancang-ancang melempar bantal. Aku buru-buru
menutup pintu kamarnya. Belum ada 5 detik, aku muncul lagi dibalik pintunya.
“Ga, nama cewek lo siapa sih? Munaroh
kan? Hahaha” buru-buru aku tutup lagi pintunya.
“kampret lo, Fi.” Teriak Angga dari
dalam kamar.
Aku kembali masuk kamar dan
menjatuhkan tubuhku diatas kasur. Melanjutkan tidur dan bisa bermimpi indah
lagi. Semoga saat terbangun nanti aku dapat mengingat lagi mimpi tentang orion.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar