Selasa, 30 April 2013

Orion, Bintang Kebahagiaan

Malam ini, angin seolah tak bosan-bosannya menyentuh tubuhku. Seperti tak ingin aku meninggalkannya sendiri, bergelung mencari arah. Aku bukan tak mampu menemani, hanya saja aku bukan orang yang tau kemana arah yang tepat? Jadilah aku hanya terdiam membalas sapaan angin yang dingin.

Malam ini, langit dengan angkuh memamerkan keanggunannya, gugusan bintang yang mengawal sabit. Aku terduduk, memandangi bintang kebahagiaanku di atas langit. Bintang kebahagian itu sesekali mengedip genit pada diriku. Ia sadar, aku datang untuk menemuinya.

Di bawah orion, aku mulai mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang aku cipta untuk dirinya, bintang kebahagian lain. Aku sama sekali tak medua, tapi aku yakin jika dia adalah jelmaan sesungguhnya dari orion. Mengagumkan, cukup untuk menggambarkan betapa sempurnanya dia untukku.

*****

Pagi-pagi sekali aku bangun, bahkan ayam pun belum siap berkokok. Aku beberapakali mengerjap, mencoba mengingat apa yang aku impikan semalam. Apa aku bertemu orion? Apa aku menyapanya? Aku bernyanyi untuknya? Entahlah, semua tak dapat aku ulang lagi.

Aku menyerah untuk mengingat mimpi dan keluar mencari udara yang sedikit segar ketimbang didalam kamar ini. Aku langsung disapa udara sejuk saat Kubuka kenop pintu kamar. Dengan rakus aku hirup oksigen kedalam paru-paru hingga tak bersisa ruang lagi, lalu aku keluarkan karbon dioksida.

Aku adalah mahasiswa tingkat dua yang masuk dalam fakultas teknik. Memang, cita-citaku sewaktu kecil adalah menjadi insinyur dan yakin jalan yang kupilih tidak salah untuk mewujudkan cita-cita itu. Tapi, sejalannya waktu, aku hampir lupa pada itu semua, Terkikis oleh perasaan ingin membahagiakan dua orang terhebat di rumah sana.

Aku lihat ventilasi kamar-kamar disampingku. Semua masih menunjukan jika penghuninya masih berkativitas. Di sebelah kiri, aku yakin Ucup sedang menonton klub sepakbola kesayangannya bertanding, Chelsea. Di sebelah kanan, Angga pasti sedang asik bermain game, dota online. Mereka adalah sahabatku sejak aku datang ke kota ini, Jakarta.

“Cup, Ga. Masih hidup kalian?” Aku menyapa mereka dari luar kamar kosan.

“yoi…” sahut mereka hampir bersamaan.

Cukup puas untuk menikmati udara, aku coba melihat mereka di dalam kamar. Aku masuk ke dalam kamar Ucup terlebih dahulu. Berharap chelsea-nya sedang kalah, jadi aku bisa mem-bully-nya.

“berapa-berapa cup? Menang?”

“tuh liat aja, Fi” Ucup tersenyum. Tanpa aku harus melihat televisi, sudah jelas terlihat jika chelsea menang.

“asik deh, 4-1. Makan siang gratis nih kayaknya” candaku.

“santai…” Ucup tersenyum puas “kalo david nanti pagi bayar, kita makan enak. Hahaha” setelah tersenyum, sekarang ia tertawa senang.

“oke deh, Cup” aku meninggalkan kamarnya dan menuju kamar Angga.

“woi, kerjaan lo tiap malem maen dota mulu.”

“bawel lo. Pacar gw aja gak bawel” protes Angga.

“pacar? Maksud lo boneka mendesah itu? hehehe” aku menunjuk boneka sex full body sambil terkekeh.

“berisik lo, kampret. Keluar sono, ganggu konsentrasi gw aja” Angga mengambil ancang-ancang melempar bantal. Aku buru-buru menutup pintu kamarnya. Belum ada 5 detik, aku muncul lagi dibalik pintunya.

“Ga, nama cewek lo siapa sih? Munaroh kan? Hahaha” buru-buru aku tutup lagi pintunya.

“kampret lo, Fi.” Teriak Angga dari dalam kamar.


Aku kembali masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku diatas kasur. Melanjutkan tidur dan bisa bermimpi indah lagi. Semoga saat terbangun nanti aku dapat mengingat lagi mimpi tentang orion.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar