Kami biasa latihan di studio musik
milik keluarga Naya. Naya adalah seorang wanita yang memiliki banyak pemuja
rahasia. bagaimana tidak, jika harus dikonversi kedalam angka, maka Naya bisa
mendapatkan nilai 10/10, Sempurna. Aku mengenalnya pada saat masa orientasi di
fakultas dan sejak itu kami bersahabat.
Naya senang sekali mendengar diriku
memiliki sebuah band. Dengan antusias Naya menawarkan untuk latihan di studio
musik miliknya. Beruntung memang.
“Halo, Nay.” Aku menghubungi Naya.
“Halo, Fi.”
“lo lagi dimana?”
“di Rumah nih. Kenapa? Mau latihan
yah?”
“iya nih, tau aja lo. Hehehehe” aku
tertawa menahan sedikit malu karena tujuanku menghubunginya sudah tertebak
lebih dulu.
“I know you so well~” Naya
mebalasku sambil menyanyikan kalimat tersebut.
“yaudah, gw ketempat lo yah. Gw jemput
lo, trus langsung ke studio.”
“gak usah, aku aja yang ke kosan kamu.
Habis latihan temenin aku jalan yah”
“oke kalo gitu. Siap tuan putri
Kanaya”
*****
Naya tak pernah absen menemani kami
latihan. Secara tak langsung dia juga telah menjadi manajer sekaligus produser.
Lagi – lagi beruntung.
“lagu baru kalian bagus juga, siapa
yang buat?” Naya bertanya.
Angga dan Ucup melihat ke arahku.
“kita buat bareng – bareng kok” aku
yang gerogi lalu menyambar.
“oh gitu. Tiap latihan harus
dibawain yah. Minimal 10 kali”
“ah, yang bener aja lo, Nay. Bosen kali”
Ucup protes.
“gw juga pegel tuh mainin bass-nya,
ribet” Angga ikut – ikutan.
“masih mau latihan gratis gak? Itu peraturannya”
Naya mengultimatum.
Aku hanya tertawa kecil melihat
Ucup dan Angga yang tak mampu melawan lagi.
“yaudah, yuk kita pulang aja”
ajakku.
Mendengar ajakkanku, Naya lalu
sibuk membuka dompetnya.
“Ucup sama Angga, balik ke kosannya
sendiri yah. Aku sama Arfi mau jalan – jalan dulu. Nih buat ongkos” Naya
memberikan uang sepuluhribu kepada mereka.
“kok gitu, Nay? Tega banget lo
nyuruh kita pulang sendiri” Ucup mengiba.
“ah, nyesel gw nebeng mobil lo,
Nay. Besok – besok kita bawa motor aja kesininya, Cup” Angga lagi – lagi protes
pada Naya.
“hehehe, maaf yah. Soalnya bakalan
bolak – balik kalo mesti ke kosan kalian dulu. Yuk, Fi kita berangkat”
“yuk, Nay. Kalian sabar yah. Hehehehe”
aku meledek Ucup dan Angga.
*****
“Arfi, kamu belajar nyetir dong. Masa
cewek sih yang nyetir?” Naya menggerutu ditengah perjalanan.
“gak ah, enakan begini. Disetirin sama
lo, gak capek. Hehehehe”
Naya sedikit kesal mendengar
jawabanku, terlihat dari bibirnya yang sedikit dimanyunkan. Ekspresi ini sudah
menjadi langganan jika Naya sedang kesal.
“dih manyun”
“bodo” Naya tambah kesal.
“hehehehe” aku lanjut tertawa. “sebenarnya
kita mau kemana sih?” aku bertanya setelah puas tertawa melihat Naya.
“………” Naya hanya terdiam.
“Nay, kita mau kemana? Ke toko
buku?”
“……………….” Naya masih diam dan lebih
lama.
“Nay?” aku panggil agak keras.
“eh, iyaiya” Naya kaget. Lalu hening
kembali.
“Arfi, mau gak jadi pacar aku?”
Suara Naya muncul.
“HAH?” sekarang aku yang kaget.