Selasa, 06 Agustus 2013

Orion, Bintang Kebahagiaan 3

Aku, Ucup dan Angga sepakat membentuk band untuk sekedar menyalurkan hasrat bermusik kami. Dengan mental seni yang minim kami menamainya MLG, “My Long Genital”. Jika orang lain mencari nama dengan filosofi yang mengagumkan, tidak dengan kami. Nama itu tercetus tanpa sengaja oleh Angga yang sering menjelajah situs porno. Suatu waktu aku pernah menanyai latar belakang penamaan tersebut, dan dengan entengnya dia menjawab “biar orang – orang pada tau kalo punya kita panjang”, Bodoh.
Kami biasa latihan di studio musik milik keluarga Naya. Naya adalah seorang wanita yang memiliki banyak pemuja rahasia. bagaimana tidak, jika harus dikonversi kedalam angka, maka Naya bisa mendapatkan nilai 10/10, Sempurna. Aku mengenalnya pada saat masa orientasi di fakultas dan sejak itu kami bersahabat.
Naya senang sekali mendengar diriku memiliki sebuah band. Dengan antusias Naya menawarkan untuk latihan di studio musik miliknya. Beruntung memang.
“Halo, Nay.” Aku menghubungi Naya.
“Halo, Fi.”
“lo lagi dimana?”
“di Rumah nih. Kenapa? Mau latihan yah?”
“iya nih, tau aja lo. Hehehehe” aku tertawa menahan sedikit malu karena tujuanku menghubunginya sudah tertebak lebih dulu.
“I know you so well~” Naya mebalasku sambil menyanyikan kalimat tersebut.
“yaudah, gw ketempat lo yah. Gw jemput lo, trus langsung ke studio.”
“gak usah, aku aja yang ke kosan kamu. Habis latihan temenin aku jalan yah”
“oke kalo gitu. Siap tuan putri Kanaya”
*****
Naya tak pernah absen menemani kami latihan. Secara tak langsung dia juga telah menjadi manajer sekaligus produser. Lagi – lagi beruntung.
“lagu baru kalian bagus juga, siapa yang buat?” Naya bertanya.
Angga dan Ucup melihat ke arahku.
“kita buat bareng – bareng kok” aku yang gerogi lalu menyambar.
“oh gitu. Tiap latihan harus dibawain yah. Minimal 10 kali”
“ah, yang bener aja lo, Nay. Bosen kali” Ucup protes.
“gw juga pegel tuh mainin bass-nya, ribet” Angga ikut – ikutan.
“masih mau latihan gratis gak? Itu peraturannya” Naya mengultimatum.
Aku hanya tertawa kecil melihat Ucup dan Angga yang tak mampu melawan lagi.
“yaudah, yuk kita pulang aja” ajakku.
Mendengar ajakkanku, Naya lalu sibuk membuka dompetnya.
“Ucup sama Angga, balik ke kosannya sendiri yah. Aku sama Arfi mau jalan – jalan dulu. Nih buat ongkos” Naya memberikan uang sepuluhribu kepada mereka.
“kok gitu, Nay? Tega banget lo nyuruh kita pulang sendiri” Ucup mengiba.
“ah, nyesel gw nebeng mobil lo, Nay. Besok – besok kita bawa motor aja kesininya, Cup” Angga lagi – lagi protes pada Naya.
“hehehe, maaf yah. Soalnya bakalan bolak – balik kalo mesti ke kosan kalian dulu. Yuk, Fi kita berangkat”
“yuk, Nay. Kalian sabar yah. Hehehehe” aku meledek Ucup dan Angga.
*****
“Arfi, kamu belajar nyetir dong. Masa cewek sih yang nyetir?” Naya menggerutu ditengah perjalanan.
“gak ah, enakan begini. Disetirin sama lo, gak capek. Hehehehe”
Naya sedikit kesal mendengar jawabanku, terlihat dari bibirnya yang sedikit dimanyunkan. Ekspresi ini sudah menjadi langganan jika Naya sedang kesal.
“dih manyun”
“bodo” Naya tambah kesal.
“hehehehe” aku lanjut tertawa. “sebenarnya kita mau kemana sih?” aku bertanya setelah puas tertawa melihat Naya.
“………” Naya hanya terdiam.
“Nay, kita mau kemana? Ke toko buku?”
“……………….” Naya masih diam dan lebih lama.
“Nay?” aku panggil agak keras.
“eh, iyaiya” Naya kaget. Lalu hening kembali.
“Arfi, mau gak jadi pacar aku?” Suara Naya muncul.

“HAH?” sekarang aku yang kaget.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar