Kelas statistik akan dimulai
beberapa menit lagi, tapi aku belum berada di kelas saat ini. Aku masih duduk
di depan kosan, memandangi hujan yang tak hentinya berjatuhan. Dingin yang
dibawa hujan kali ini aku timpali dengan secangkir kopi hangat. Padanan yang
pas.
Sedang asiknya aku menikmati cita
rasa dan aroma kopi, tiba-tiba aku menangkap pemandangan yang tidak pas. Aku yakin
sekali jika ini bukan malam dan ini bukan mimpi. Seperti melihat orion. Ia
berlari bagai tak peduli hujan. Rambutnya jatuh karena sedikit basah oleh butir
air langit.
“Panggil? Enggak? Panggil? Enggak?”
aku menghitung jari, bimbang.
“Janji” Suaraku menembus hujan, “Mampir
dulu sini. Hujannya deras” aku memutuskan memanggilnya karena kulihat dia
sedang membawa sekumpulan kertas, yang sepertinya penting.
“gak deh. Makasih” jawabnya seperti
tak peduli tawaranku sambil terus berlari. Aku sudah menduga pasti tidak mau.
Namanya Janji, Ia seorang wanita
yang lembut dan anggun. Tapi tidak padaku, jutek dan ketus. Dia seperti alergi
dengan diriku. Pernah suatu waktu, aku mengajaknya untuk bareng menuju kampus.
“ke kampus juga?” aku tanya dia
sambil menghentikan laju motor.
“ya” jawabnya singkat sambil terus
melangkah.
“yuk bareng, aku juga mau kekampus”
“gak usah” masih singkat dan masih
terus melangkah.
“oke. Duluan ya” aku menarik gas
dan meninggalkannya.
Tak berapa lama, sebuah motor
mendahuluiku dan betapa kagetnya aku saat melihat orang yang berada dibelakang
pengemudi. Janji, sudah duduk manis dibelakang. Menyakitkan memang. Ya walau
begitu, setidaknya aku sudah berniat baik.
Aku lupakan kejadian barusan. Kopi yang
masih sedikit mengepul terlihat lebih menarik daripada harus mengingat betapa
juteknya Janji. Baru saja aku memegang cangkir, tiba-tiba ada suara yang
datang.
“Arfi. Gw numpang neduh di sini
dulu deh.”
Janji sudah berada di teras
kosanku.
“eh, iya iya. Silahkan.” Aku kaget
melihat dirinya sudah ada di depanku.
“mau minum? Kopi? Susu?” aku salah
tingkah.
“makasih, numpang duduk aja”
“oh, iya iya. Duduk dulu deh” aku
bahkan lupa mempersilahkan dia duduk. Grogi, salah tingkah.
Kini seorang wanita ketus ada
disampingku. Aku hanya terdiam, begitu juga Janji yang sedaritadi memeluk
kumpulan kertas. Momentum ini hanya dimonopoli oleh suara hujan. Aku bukan tak
mampu berbicara, hanya saja aku baru pertama kali dihadapkan pada kondisi ini.
berdua dengan Janji.
“ajak ngomong? Enggak? Ajak ngomong?
Enggak?” aku mulai menghitung jari lagi, “ajak ngomong deh”
“hmmm, Janji” baru aku mau memulai,
“ceklek” pintu kamar Ucup terbuka. Dan usaha pertamaku, gagal.
“waduh. Pagi-pagi udah ada bidadari
aja nih” seloroh Ucup, dengan muka bantalnya, “siapa nih, Fi?”
“eh, kenalin, ini temen gw, Ucup.”
Aku mengenalkan Ucup pada Janji.
“Yusuf Al Bantani, asli banten”
Ucup menjabat tangan Janji. Ucup sangat bangga dengan nama belakangnya.
“Janji” Ia memperkenalkan diri
sambil melepas tangan Ucup.
“wah, kirain namanya bidadari” Ucup
menggoda, “oke deh, gw tinggal dulu yah”
Ucup pergi ke kamar mandi dan meninggalkan
kami berdua. Suara hujan yang mereda menjadi musik latar diantara kesunyian
yang kami ciptakan.
“gw harus ngobrol, harus” batinku sambil
menguatkan tekad.
“hmmmm” baru aku mau memulai.
“Fi, kayaknya gw mau cabut aja deh.
Udah reda juga. Makasih ya” Janji sudah berlari lagi sebelum aku sempat
berkata-kata. Dan usaha keduaku, gagal.
“Sudahlah, mungkin memang belum
waktunya” fikirku sambil menghirup wangi parfum Janji yang tertinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar