Rabu, 01 Mei 2013

Orion, Bintang Kebahagian 2

Kelas statistik akan dimulai beberapa menit lagi, tapi aku belum berada di kelas saat ini. Aku masih duduk di depan kosan, memandangi hujan yang tak hentinya berjatuhan. Dingin yang dibawa hujan kali ini aku timpali dengan secangkir kopi hangat. Padanan yang pas.

Sedang asiknya aku menikmati cita rasa dan aroma kopi, tiba-tiba aku menangkap pemandangan yang tidak pas. Aku yakin sekali jika ini bukan malam dan ini bukan mimpi. Seperti melihat orion. Ia berlari bagai tak peduli hujan. Rambutnya jatuh karena sedikit basah oleh butir air langit.

“Panggil? Enggak? Panggil? Enggak?” aku menghitung jari, bimbang.

“Janji” Suaraku menembus hujan, “Mampir dulu sini. Hujannya deras” aku memutuskan memanggilnya karena kulihat dia sedang membawa sekumpulan kertas, yang sepertinya penting.

“gak deh. Makasih” jawabnya seperti tak peduli tawaranku sambil terus berlari. Aku sudah menduga pasti tidak mau.

Namanya Janji, Ia seorang wanita yang lembut dan anggun. Tapi tidak padaku, jutek dan ketus. Dia seperti alergi dengan diriku. Pernah suatu waktu, aku mengajaknya untuk bareng menuju kampus.

“ke kampus juga?” aku tanya dia sambil menghentikan laju motor.

“ya” jawabnya singkat sambil terus melangkah.

“yuk bareng, aku juga mau kekampus”

“gak usah” masih singkat dan masih terus melangkah.

“oke. Duluan ya” aku menarik gas dan meninggalkannya.

Tak berapa lama, sebuah motor mendahuluiku dan betapa kagetnya aku saat melihat orang yang berada dibelakang pengemudi. Janji, sudah duduk manis dibelakang. Menyakitkan memang. Ya walau begitu, setidaknya aku sudah berniat baik.

Aku lupakan kejadian barusan. Kopi yang masih sedikit mengepul terlihat lebih menarik daripada harus mengingat betapa juteknya Janji. Baru saja aku memegang cangkir, tiba-tiba ada suara yang datang.

“Arfi. Gw numpang neduh di sini dulu deh.”

Janji sudah berada di teras kosanku.

“eh, iya iya. Silahkan.” Aku kaget melihat dirinya sudah ada di depanku.

“mau minum? Kopi? Susu?” aku salah tingkah.

“makasih, numpang duduk aja”

“oh, iya iya. Duduk dulu deh” aku bahkan lupa mempersilahkan dia duduk. Grogi, salah tingkah.

Kini seorang wanita ketus ada disampingku. Aku hanya terdiam, begitu juga Janji yang sedaritadi memeluk kumpulan kertas. Momentum ini hanya dimonopoli oleh suara hujan. Aku bukan tak mampu berbicara, hanya saja aku baru pertama kali dihadapkan pada kondisi ini. berdua dengan Janji.

“ajak ngomong? Enggak? Ajak ngomong? Enggak?” aku mulai menghitung jari lagi, “ajak ngomong deh”

“hmmm, Janji” baru aku mau memulai, “ceklek” pintu kamar Ucup terbuka. Dan usaha pertamaku, gagal.

“waduh. Pagi-pagi udah ada bidadari aja nih” seloroh Ucup, dengan muka bantalnya, “siapa nih, Fi?”

“eh, kenalin, ini temen gw, Ucup.” Aku mengenalkan Ucup pada Janji.

“Yusuf Al Bantani, asli banten” Ucup menjabat tangan Janji. Ucup sangat bangga dengan nama belakangnya.

“Janji” Ia memperkenalkan diri sambil melepas tangan Ucup.

“wah, kirain namanya bidadari” Ucup menggoda, “oke deh, gw tinggal dulu yah”

Ucup pergi ke kamar mandi dan meninggalkan kami berdua. Suara hujan yang mereda menjadi musik latar diantara kesunyian yang kami ciptakan.

“gw harus ngobrol, harus” batinku sambil menguatkan tekad.

“hmmmm” baru aku mau memulai.

“Fi, kayaknya gw mau cabut aja deh. Udah reda juga. Makasih ya” Janji sudah berlari lagi sebelum aku sempat berkata-kata. Dan usaha keduaku, gagal.


“Sudahlah, mungkin memang belum waktunya” fikirku sambil menghirup wangi parfum Janji yang tertinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar